Excel pun aku buka. Setelah simulasi perhitungan selesai, keluarlah nilai zakat mal yang harus aku keluarkan tahun ini. Ternyata kewajiban zakatku besar sekali. Simulasipun aku ulangi, barangkali ada perhitungan yang keliru. Ternyata angkanya justru semakin besar.
Perlahan, perasaan tak rela menjalar ke segenap pikiran. Bisa-bisa THR-ku akan habis hanya untuk membayar zakat. Aku hampir takluk sampai pada benteng terakhir muncul sebuah gagasan.
Sebelum seseorang membayarkan zakat mal, ia harus menghitung jumlah harta yang ia miliki. Jika ia membayar zakat mal setahun sekali maka minimal setahun sekali ia harus menghitung harta yang telah ia dapatkan agar kemudian dikalikan dua setengah persen.
Tahun ini zakat mal yang harus aku keluarkan semakin besar. Aturan ini bukan untuk merampok harta yang aku "miliki". Aturan ini ada untuk mengingatkan bahwa dengan semakin besar nilai zakat mal yang wajib aku bayarkan, artinya semakin banyak pula rejeki yang telah aku terima dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam berdoa aku selalu memohon rejeki seolah-olah aku ini kekurangan, tapi dengan membayar zakat mal aku dibenturkan dengan fakta bahwa telah ada penambahan rejeki.....meskipun masih ada salah kelola