agung's posts with tag: fiction

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fiction
Blog EntryFlash Fiction 10Apr 16, '07 10:36 AM
for everyone

 

Sewaktu masih kanak-kanak, aku adalah anak yang penuh dengan cita-cita. Aku adalah anak yang tak sabar untuk segera beranjak dewasa dan menjadi apa yang aku cita-citakan. Saat itu aku sangat bahagia membayangkan masa depan yang gemilang.

Hari ini, tiba-tiba anak yang penuh cita-cita itu berdiri di depanku. Aku jatuh terduduk, bersimpuh di depannya. Aku menangis dalam malu karena tak satupun yang dicita-citakannya tercapai. Bahkan kini hidupku adalah rangkaian kegagalan. Anak itu ikut menangis, bisa kurasakan patah hatinya.

Namun ia masih sanggup tersenyum, dipegangnya pundakku lalu ia berkata,"Sudah terlalu lama aku membiarkanmu sendirian, mulai sekarang, di waktu yang masih tersisa ini, kita akan berjuang bersama untuk mengegapai cita-cita"

 


Blog EntryFlash Fiction 8Jan 25, '07 7:31 AM
for everyone

 

Aku memperhatikannya sedang membaca Al-Quran. Ia seorang yang pintar dan sudah bertahun-tahun nyantri di Pondok Pesantren itu, anehnya ia masih saja membaca Al-Quran dengan terputus-putus. Kadang-kadang alunan ayat suci mengalir lancar dari mulutnya namun tiba-tiba terhenti begitu saja. Hal ini tidaklah wajar mengingat kepintarannya lagipula santri-santri yang lain membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama agar bisa membaca dengan baik dan lancar.

Akhirnya tibalah waktu untuk bertanya.

”Mengapa bacaanmu masih saja tidak lancar?”

”Yang kulakukan sebenarnya bukan semata-mata membaca Al-Quran. Aku sedang berusaha memergoki perasaan riya yang muncul ketika membaca ayat-ayat itu. Saat kutemukan sedikit saja perasaan riya, bacaankupun ikut berhenti. Tak ada gunanya membaca ayat suci dengan hati yang tak bersih. Hanya saja...” ia mendesah,”...aku tak pernah membacanya dengan lancar.”


 


Blog EntryFlash Fiction 7Jan 16, '07 12:07 AM
for everyone

 

 

"Boleh aku meminta waktuMu sebentar? Aku sedang menderita dan sangat membutuhkan pertolonganMu."

"Apa yang terjadi?"

"Aku terlanjur menanam cinta pada lahan yang penuh ranjau. Aku tahu pasti suatu saat aku akan terluka. Namun tanaman cintaku telah tumbuh dan berkembang, tak mungkin bagiku untuk menarik diri. Tolong, tolonglah aku. Aku dengar hanya Engkau yang bisa menolongku."

"Sesungguhnya Aku yang membuat lahan itu penuh dengan ranjau. Tetapi, bukankah kamu sudah mengerti sebelumnya jika lahan itu berbahaya? Aku tidak akan memberi tahumu apakah kamu bersalah atau tidak.  Sekarang, lewati saja lahan yang genting ini. Kalau kamu selamat itu artinya tanaman cinta itu milikmu, tapi jika kamu terluka...hargailah sisa hidupmu."

“Aku rasa itu adil.”


Blog EntryFlash Fiction 6: Dalam Sebuah Metro MiniAug 21, '06 11:36 PM
for everyone

jumlah kata: 225

 

Dalam sebuah metro mini, aku duduk di kursi paling belakang. Di sebelah kiriku duduk satu keluarga dengan dua anaknya yang masih kecil. Yang sulung perempuan berusia sekitar tiga tahun dan satunya si bungsu, tampaknya laki-laki berumur kurang satu tahun.

Metro mini yang kami tumpangi agak penuh sore itu sehingga kami duduk berhimpitan. Tubuh si sulung menempel pada tubuhku. Aku bisa merasakan kehangatan badannya. Itu kehangatan tubuh anak-anak, energi alam yang paling murni.

Anak perempuan itu tampak tenang sambil menghabiskan snack di tangannya. Setelah habis, bungkus snack ia serahkan kepada ibunya. Kemudian anak itu memandang keluar jendela metro mini. Ia tampak tertegun sambil memandang mobil-mobil yang lalu lalang di jalan. Ada sesuatu dalam pandangan anak itu, ada sesuatu yang ingin disampaikan pandangan itu kepadaku. Mungkin aku menghayal tapi dalam pandangan anak itu aku mendengar dialog batinnya. Ia bertanya dengan dirinya sendiri,”Mengapa ayah tidak bisa memiliki mobil seperti itu?”

Ya Tuhan, apakah ini sebuah momentum penting dalam kehidupan manusia? Yaitu saat ia mulai mengenal konsep mampu dan tidak mampu, saat ia mengenal konsep kaya dan miskin. Ia pasti akan bisa membedakan antara kaya dan miskin. Tetapi, apakah ia bisa menyikapinya dengan bijak?

Aku menghela nafas, tampaknya sore ini empatiku terlalu berlebihan. Jika aku turuti empatiku aku khawatir akan menangis sendirian di dalam angkutan umum. Lebih baik aku titipkan saja anak itu kepada Tuhan dan lanjutkan hidupku sendiri.


Blog EntryFlash Fiction 5: Kiat Mengatasi Godaan MaksiatAug 8, '06 2:41 AM
for everyone

jumlah kata:169

 

Di bawah pohon rindang yang terletak di tengah sebuah pemakaman umum, dua orang berbincang-bincang tentang kehidupan.

”Apa yang kamu lakukan agar kamu selamat saat datang godaan untuk melakukan maksiat?”

”Pertama-tama, aku akan melihat situasi itu sebagai pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Tetapi aku tidak akan melibatkan diri. Aku memilih untuk menarik diri dari peperangan itu. Aku putuskan untuk berada di luar saja menyaksikannya dengan santai. Aku tak merasa khawatir bahwa keburukan akan menang. Kebaikan selalu lebih unggul segala-galanya. Setiap godaan maksiat bisa aku atasi dengan cara demikian.”

Kedua orang itu kemudian diam sejenak, yang satu diam untuk melanjutkan penjelasannya, yang lain diam untuk mencerna penjelasan yang sudah diberikan.

”Kawan, satu hal lagi yang perlu aku jelaskan. Tahukah kamu kenapa selama ini kejahatan bisa menguasai dirimu? Itu karena kamu ikut berperang. Kamu terlibat dalam pertempuran tersebut. Sebenarnya, keterlibatanmu itu merupakan energi tambahan bagi keburukan sehingga ia yang sebenarnya lemah bisa menguasai dirimu.”

”Pemikiran yang menarik. Baiklah, aku tidak akan mendebatmu, aku akan mengujinya pada diriku sendiri dalam beberapa hari kedepan.”


Blog EntryFlash Fiction 4: Asmara Yg MembosankanJul 21, '06 2:41 AM
for everyone

Jumlah kata: 139

 

”Aku tahu sedari tadi kamu sudah merasakan ketidakberesan pada diriku. Kamu pasti sudah merasakan ada yang aneh dengan caraku memandangmu. Dan...kamu pasti sudah gelisah dengan hawa canggung pada malam yang dingin ini.”


Malam semakin senyap. Anginpun berhenti menimbulkan suara pada rerimbunan pohon bambu. Siapapun pasti akan putus asa dengan kesunyian tersebut karena tiada cara untuk lepas diri darinya.


”Maafkan aku, aku telah menularkan rasa gelisah ini padamu di saat kamu seharusnya bisa beristirahat dengan tenang. Ini semua hanya karena aku jatuh cinta padamu....”

Setiaji segera menutup novel murahan itu. Ia pun mengeluh pada sahabat yang berada di sebelahnya.

”Aku sebenarnya sudah sangat bosan dengan novel percintaan.”

”Kamu sebenarnya tidak bosan, kamu hanya putus asa dengan kisah asmaramu sendiri yang membosankan, tidak seperti novel itu yang penuh gelora.” Sahabatnya berkata dengan dingin sambil terus membaca koran, tanpa sedikitpun memandang Setiaji.


Blog EntryFlash Fiction 3: Hari Bermurah HatiJul 11, '06 9:22 PM
for everyone

Jumlah kata: 132

 

"Saya benar-benar pusing, Mas"
Laki-laki itu mengeluh sambil terus mengendalikan taksinya yang melaju untuk  mengantarku ke kantor.


"Saya ingin ungkapkan kebenaran ini, tapi saya malu terhadap istri dan anak-anak. Saya telah mengkhianati mereka dengan menikah lagi diam-diam. Memang yang saya nikahi itu wanita baik-baik yang mau menerima keadaan saya apa adanya. Tapi tetap saja ini pengkhianatan. Apalagi selama ini istri dan anak-anak saya telah sabar menjalani hidup yang melarat. Saya gak akan sanggup memandang mata mereka, Mas."


Aku hanya mendengarkan dengan sabar pembicaraan laki-laki itu sambil membantu dia untuk terus mengeluarkan semua beban pikirannya.

Bagaimanapun juga laki-laki itu sangat beruntung, dia akan mendapat uang dengan mengantarku, ditambah sedikit uang tip. Tidak hanya itu, dia juga telah mendapatkan satu sesi curhat rumah tangga. Hari ini aku sangat pemurah rupanya. Akupun terkekeh dalam hati.


Blog EntryFlash Fiction 2 : UtangJun 26, '06 1:22 AM
for everyone

Jumlah kata : 111

Utang, aku adalah korban utang. Banyak orang berhutang padaku dan banyak pula yang lupa melunasinya. Mereka tidak menganggap aku sebagai orang penting sehingga aku berada pada prioritas ke sekian untuk dibayar hutangnya. Sesungguhnya, itu yang menyiksa bathinku.....dianggap tidak penting.
Sewaktu mereka memohon bantuanku, mereka pasang wajah memelas. Saat ini, wajahkulah yang memelas. Tapi wajah memelasku tidak penting bagi mereka. Mereka lebih mementingkan suara telpon dari debt collector kartu kredit. Bayangkan ternyata mereka lebih menganggap penting suara telepon dari pada wajahku yang jelas sekali kelihatan nelangsanya. Wajarkan kalau aku sekarang sakit hati?
Padahal, aku bisa lupakan jutaan uangku yang telah mereka gunakan. Namun terlupakan? Sampai matipun akan selalu aku ingat pelecehan ini.


Blog EntryFlash Fiction 1 : Aku Menjadi Orang Baik-BaikJun 21, '06 9:00 PM
for everyone

Flash fiction itu adalah cabang dari cerita pendek, ditulis dengan jumlah kata yang sangat sedikit. Dulu di Amerika pernah ada lomba menulis flash fiction, syaratnya yaitu jumlah kata sebanyak 55 buah. Adapun flash fiction saya yang pertama di bawah ini mengandung 181 kata (kalo gak percaya hitung sendiri ). Akhirul kalam, selamat mengkritik karya saya

 

Sudah tiga hari ini sejak aku memutuskan menjadi orang baik-baik. Dalam tiga hari ini aku telah berjuang untuk melakukan semua yang dianjurkan agama. Sebelumnya, aku tidak pernah serakus ini dalam beribadah. Bahkan sekarang aku lebih perfeksionis dalam menjalankan semua aturan-aturan dalam agama. Wudhu bisa aku ulangi lima kali agar aku benar-benar merasa mantap dan yakin telah melakukannya sesuai dengan syariat. Takbiratul ihram aku lakukan berkali-kali sampai yakin walaupun setelah yakin tak lama kemudian imam rukuk.
Hari ini ada satu lagi aturan yang aku dapat dari pengajian tadi malam yaitu, menjaga pandangan. Itulah sebabnya sejak tadi aku selalu menundukkan kepala agar pandangannku terjaga. Entah sudah berapa kali aku hampir menabrak orang ketika berjalan. Orang-orang itu sebagian diam saja, sebagian mengomel. Aku tidak peduli, aku tetap menundukkan kepala. Pandangan mataku tak boleh dicemari hal-hal yang hina dan membuat kotor pikiranku.
Aku sangat suka sekali dengan aturan menjaga pandangan ini karena sangat mudah. Sebelum menjadi orang baik-baik aku tidak peduli dengan lingkungan maka dengan menjaga pandangan aku pun tidak perlu peduli dengan lingkungan. Jadi aku tidak perlu capek-capek untuk menyesuaikan diri. Agama itu memang mudah.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help