
Jurnal ini untuk mendokumentasikan semua hal yang saya tangkap pada acara pengajian yang diisi oleh
Bp. Muhammad Zuhri. Terus terang merangkum pemikiran beliau tidaklah mudah. Jadi mohon maaf jika rangkuman berikut membingungkan serta mengandung reduksi besar-besaran. Ada banyak hal yang tidak tertulis di sini, disamping karena pemahaman saya yang kurang baik juga saya tidak menggunakan perekam, saya hanya mengandalkan catatan.Namun rangkuman ini tetap harus saya tulis agar suatu saat saya bisa lebih memahami pelajaran beliau. Yah, paling tidak saya bisa menghayati pentingnya voice recorder...jadi kepikiran mo beli nih :)
Rangkuman:Allah menunjukkan diri-Nya kepada manusia dengan dua cara:
- Dengan berkah dan rahmat-Nya, yaitu semua hal-hal yang manis dan menyenangkan.
- Dengan kekuasaan-Nya, sehingga menimbulkan perasaan takut, kalah, dan duka pada manusia.
Manusia cenderung memilih rahmat, padahal realitas, kehidupan di samping mengandung rahmat juga terdapat kepahitan. Karena kecenderungan itu maka manusia menjadi tidak seimbang.
Akhirnya yang terjadi manusia saling berebut untuk mendapatkan hal-hal yang manis (rahmat) saja.Pemenangnya adalah mereka yang memiliki power. Adapun wujud power tersebut antara lain kekayaan, ilmu, dan kekuasaan. Hanya sedikit orang yang memiliki power tersebut, sehingga mayoritas orang menjadi korban.
Sebagian besar dari korban-korban itu adalah kaum fakir miskin. Di sisi lain, fakir miskin adalah kekasih Allah. Mereka mendapat kehormatan menjadi kekasih Allah karena keterbatasan-keterbatasannya dan yang mereka selalu hal-hal yang mereka perlukan. Sehingga selama masih ada keluh kesah mereka, kaum mustad'afin, maka bencana akan selalu ada. Dan kaum mustad'afin itulah yang sanggup melakukan pergerakan-pergerakan. Ada beberapa contoh seperti Revolusi Bolshevik dan Revolusi Iran.

Dalam hidupnya, manusia dibebani dengan dua hal, masa lalu dan masa depan. Kedua hal itu ditanggung di masa kini.
Tanggung jawab masa lalu yaitu menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orang tua kita dan juga yang telah kita bangun dan pertahankan selama ini. Jangan sampai karena kenikmatan sesaat di masa kini yang tak menawarkan nilai membuat apa yang kita bangun menjadi hancur. Ini adalah sikap syukur.
Tanggung jawab masa depan adalah sikap shabar dengan janji Tuhan dan bersabar menjalani nilai-nilai yang kita pertahankan.
Sebagai seorang mukmin, sikap kita terhadap kenyataan (masa lalu) adalah syukur, sedangkan terhadap kemungkinan (masa depan) adalah shabar.
Bencana yang telah terjadi merupakan keputusan Tuhan yang adil buat kita. Sebenarnya ketika tertimpa musibah yang terpenting bukanlah musibahnya namun penyikapannya. Penyikapan yang tepat akan menghasilkan rasa tentram. Tidak ada gunanya beragama jika tidak bisa mencapai ketentraman.

Agama penting dalam kehidupan manusia karena memberikan hal tertinggi, yaitu tujuan hidup dan cara mencapai tujuan tersebut. Adapun tujuan tersebut adalah pulang kepada Allah dalam kondisi diridhoi.