agung's posts with tag: puisiku
pada tanah yang bersungai cinta dalam hari yang fajarnya abadi
di situ aku tiba-tiba berada waktu wajahmu kupandangi

tanganku jadi kekar saat kugendong bayi lucu itu Seketika aku perkasa, demi makhluk lemah di tanganku
ini adalah bunga-bunga ibuku yang ia pelihara dalam cinta sehingga indah mekarnya dan wangi semerbak harumnya bunga-bunga itu hidup oleh sepasang tangan yang dulu suapi aku yang dulu belai aku yang buat tenang jiwaku bunga-bunga itu kakakku karena mereka lebih dahulu indah sedang aku masih kuncup yang belumlah mekar namun ibuku tak pernah berhenti berharap suatu saat aku akan seindah bunga-bunganya
diciptakan air mata pada hati yang gelisah agar terdiam jiwa yang tak tenang sehingga tersadar dalam keheningan bahwa hidup tak akan dibiarkan sendiri
sebab, selalu ada gerak Illahi mengendap halus tanpa lelah dalam perjalanan untuk kembali
lonceng-lonceng kecil bergelantungan ditiup angin selatan betapapun besar tekad lonceng-lonceng itu untuk tidak berbunyi tetap saja angin bisa memaksanya bersuara, setelah terdiam sekian lama
padahal angin tercipta bukan untuk lonceng-lonceng itu angin ada untuk samudera angin ada untuk hantarkan mega, kemudian sebarkan hujan dan angin terlalu besar untuk sekedar lonceng
jadi jika engkau terpesona dengan suara lonceng itu ketahuilah.... lonceng tidak sedang bernyanyi namun ia memaki angin
Sleman, 6 September 2000
pada hari yang sama, aku juga menulis kata-kata ini (yg terlalu lugas sehingga aku malas menamainya puisi):
cintamu terlalu sempit, berkembanglah, semakin besarlah rahmat untuk seluruh alam, untuk semangat itu kamu diciptakan
jangan hanya menjadi lonceng engkau bisa menjadi angin yang tercipta untuk siapa saja bukan sekedar mempesona siapa saja
jika benar engkau ingin menjadi angin maka bersiaplah tercabik-cabik untuk memenuhi ruang
dan tentu saja engkau akan membawa kesejukan walau dirimu sendiri tidak pernah tahu betapa nikmatnya dibelai angin semilir
tugasmu hanya mengantar mega pada buminya agar di sana turun hujan dan muncullah kehidupan namun itu bukan hidupmu itu adalah kehidupan bumi
Sleman, September 2000
Setetes embun telah membuatku lupa akan samudra yang maha luas
kasihan sekali... hanya karena setetes embun yang bergulir di atas daun lalu lenyap maka lenyap pula ingatanku tentang misteri tujuh lautan tak bertepi
Sleman, 4 Juni 2000
batang bunga itu melengkung meski bukan milikku tapi lengkung batangnya yang berbunga menghiasi dan mengharumi halaman rumahku
orang-orang berdatangan dan memuji "ah, indah nian kebunmu ini. pasti engkau orang yang berbahagia."
"kamu salah. aku berbahagia karena aku sadar dengan apa yang kumiliki. aku sadar, bunga itu tidak berakar di sini, di tanahku."
Sleman, Mei 2000
sekali lagi Kau uji aku tapi kusambut ujian itu dengan mata berkerut dengan mulut yang sengaja kukunci agar tak bisa tersenyum
kapan aku bisa menyambut ujianmu dengan senang bagaikan mendapat mobil tumpangan yang bisa antarkan aku ke rumah-Mu yang damai
sehingga tak perlu aku bermuka masam tak perlu lagi ada prasangka dan juga aku tak perlu salahkan sahabatku
Sleman, 2 Januari 2000
Petak Umpet
hanya saja aku tidak pernah menang selalu aku yang harus mencari sampai suatu ketika aku di sini dalam kesederhanaan dalam bau comberan dalam panas dalam gigitan nyamuk dalam lelah dalam cemas dalam sindiran dalam wc umum yang berdinding seng dalam pesawat tv yang gambarnya tinggal separo dan tentu dalam alunan shalawat Ida Laila rasanya aku mulai bisa menebak di mana Kamu berada walau aku tahu aku tak pernah menang dan terus mencari
Surabaya, Mei 2000
kepada dosa di pagi hari
kau paksa aku untuk menyerah namun aku masih ingat, betapa mengerikannya jika aku menyerah padamu
Sleman, 2000
Ketika aku melihat rumah itu Aku bertanya,"Mungkinkah puisi tercipta di tempat seperti ini?"
Namun kuikuti saja langkah kaki yang membuatku semakin dekat dan semakin dekat
Sampai ada yang berbisik padaku ,"Mungkinkah kau tanggalkan baju kesombonganmu?"
Sleman, 13 Januari 2000
Betapa tak sopannya dirimu Kau minta agar hujan berhenti
Padahal, Hujan adalah persenggamaan antara langit dan bumi agar muncul darinya berbagai aneka kehidupan agar wajah bumi kembali segar merekah tebarkan pesona yang lebih dahsyat
Sleman, 31 Oktober 2000
Tolong, sampaikan salamku pada dukamu dan katakan padanya jika ia selalu bersamamu maka akupun cemburu
Sleman, 5 Maret 1999
Kalau kau dengar nyanyian burung di pagi hari siapa sangka kalau tadi malam badai bergulung-gulung penuh amarah sehingga tercerabutlah berbagai nyawa kehidupan
Tapi kalau kau dengar nyanyian burung itu Apakah kau merasakan lirik yang penuh dendam? Apakah kau rasakan hentakan yang penuh kemarahan? Sedang baru saja kematian mengelilingi mereka
Dan kicau burung terus berbunyi karena episode kesedihan seharusnya tak terlalu lama yang penting sekarang hangatnya sinar matahari dan daun-daun basah yang menyejukkan
Sleman, 22 Oktober 2000
otakku lumpuh karena mulutmu sedang mulutmu trocoh karena kau pikir otakku lumpuh
Sleman, 30 Desember 1999
itu seperti cinta di kejauhan lambaikan tangan sepenuh hati
dan itu buat aku hanyut dalam gelombang alirannya, hingga aku tak perlu lagi berjalan
suatu saat, pasti aku akan sampai
namun itu adalah gelombang, yang tak selalu hanyutkan aku ke pasir putih yang lembut
sering kali dihempaskannya aku pada karang hitam yang garang di pantai yang senja
aku terluka, aku tercabik cinta itu, cinta yang perih
namun suatu saat, pasti aku akan sampai
pada cintanya aku berjalan dengan langkah-langkah perlahan sembari jawab sebuah pertanyaan, untuknyakah aku hidup?
dalam cintanya ya cintanya harapku perjalanan ini usai dan pada tempatnya berdiri ku buang semua bekal perjalanan kutanggalkan sepatuku yang lusuh kubasuh kakiku yang berdebu karena aku tak lagi ingin berjalan
*aku memang masih jauh, tapi setidaknya lihatlah diriku yang masih berupa titik di ujung samudera*
dalam kemarau, angin hadir bukan membawa hujan. ia hanya katakan,”bertahan, bertahanlah barangkali sejuk yang kubawa akan membuatmu tegar di tengah kerontang ini.”
Catatan: Dalam situasi sulit, bukan juru penolong yang diharap. Yang harus dikembangkan adalah kemampuan bertahan, berjuang, sekaligus kepasrahan kepada Allah penguasa kehidupan.
puisi lama nih, baru sekarang uploadnya. jadi tolong dimaklumi haree geneeee ngomongin hujan 
hujan tidak juga berakhir meski musim sudah berganti entah apa yang dicintainya hingga derasnya masih basahi bumi
hujan ini tak bisa dimengerti olehku juga olehmu terlalu lama dalam misteri hingga tak ada lagi yang peduli
| |