agung's posts with tag: rapentingyoben
Sebenarnya saya gak terlalu suka mengirim ucapan lebaran secara borongan melalui SMS. Jika saya mengirim ucapan SMS lebaran maka itu pasti personal sifatnya. Kata-kata dalam SMS saya untuk A dan B pasti berbeda. Namun yang jadi masalah, dalam setiap musim lebaran saya mendapatkan banyak sekali ucapan lebaran melalui SMS sehingga tidak mungkin bagi saya untuk membalas satu persatu. Jadi solusinya, tidak ada satupun SMS tersebut yang saya balas. Saya hampir menganggap SMS-SMS tersebut tidak berguna. Sampai suatu ketika saya kehilangan handphone sebelum ramadhan. Meskipun saya bisa mendapatkan kembali nomor handphone saya yang lama, tetapi tetap saja saya kehilangan nomor-nomor kontak yang saya simpan dalam handphone bukan dalam sim card. Untunglah ada SMS-SMS lebaran yang biasanya pada akhir message menuliskan nama pengirimnya, sehingga nomor-nomor kontak yang hilang bisa saya kumpulkan kembali tanpa harus menanyakan pada yang bersangkutan.
Beberapa hari ini saya sibuk memikirkan sebuah wacana berikut. Cuma, saya perlu ingatkan bahwa jurnal ini gak penting banget loh: Begitu banyak lelaki berlomba-lomba untuk mendapatkan wanita idaman yang cantik dengan embel-embel sholihah, pintar, berprilaku baik, dan lain sebagainya.Aku katakan embel-embel karena fokus jurnal ini memang hanya di seputar kecantikan fisik. Mentalitas lelaki yang demikian merupakan mentalitas konsumen. Karena ia hanya berusaha mengambil apa yang sudah jadi.Bahkan seorang teman menamakan "perampok" bagi seorang lelaki yang terobsesi mendapatkan wanita cantik, kaya, pintar, terpandang tanpa memikirkan apa yang sebenarnya bisa ia tawarkan dari dirinya kepada wanita tersebut. Kemudian jika laki-laki itu gagal memenuhi harapannya maka ia pun marah-marah dengan menganggap semua wanita itu matre. Alih-alih sebagai konsumen, maka laki-laki sebenarnya memiliki potensi menjadi produsen kecantikan. Saya tidak bermaksut mengatakan bahwa laki-laki harus menjadi ahli bedah plastik agar bisa menjadi produsen kecantikan. Maksut saya begini...telah banyak orang setuju bahwa kecantikan bukan semata perkara ragawi. Ada semacam perilaku tertentu, penyikapan tertentu, atau mindset tertentu yang ternyata bisa menstimulus sejenis aura tertentu pada wajah seorang wanita sehingga ia bisa tampak sangat menarik. Maka, jika seorang laki-laki bisa membantu seorang wanita atau pasangan hidupnya menemukan setting mental yang tepat agar tampak menarik maka laki-laki itu seorang produsen kecantikan, katalis, atau seorang midas yang sanggup mengubah apapun yang ia sentuh menjadi emas. Para wanita seyogyanya berhati-hati dengan lelaki bermental konsumen, karena pada dasarnya ia bisa mengambil tetapi belum tentu bisa memelihara kecantikan wanita. Ia belum tentu bisa membuat suasana bathin yang jauh dari tertekan, ia belum tentu mampu mengeluarkan kata-kata yang memotivasi dan membuat hidup jadi menyenangkan. Bukankah banyak wanita yang mendadak hilang kecantikannya setelah menikah? Jadi kalau bisa para wanita memilih pria yang bermental produsen, yang mau berproses. Tentunya saya selaku penulis jurnal ini setidaknya punya itikad baik menjadi produsen    *iklan diri*
Barusan buka halaman ini, di situ aku melihat foto wajah wanita-wanita sukses di dunia bisnis. Dalam foto itu semua wajah tersenyum. Semua orang bisa tersenyum ketika difoto. Tapi sepertinya tidak semua orang bisa tersenyum seperti itu. Senyum wanita-wanita sukses itu sangat berenergi. Juga tergambar pada wajah itu antusias atau semangat yang besar. Aku sama sekali tidak melihat perasaan tertekan dalam rona wajah mereka. Memang, ada banyak faktor yang membuat seseorang sukses. Namun dari wajah-wajah itu semangat pastilah salah satu faktor yang berperan. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat mereka selalu bersemangat?
Excel pun aku buka. Setelah simulasi perhitungan selesai, keluarlah nilai zakat mal yang harus aku keluarkan tahun ini. Ternyata kewajiban zakatku besar sekali. Simulasipun aku ulangi, barangkali ada perhitungan yang keliru. Ternyata angkanya justru semakin besar. Perlahan, perasaan tak rela menjalar ke segenap pikiran. Bisa-bisa THR-ku akan habis hanya untuk membayar zakat. Aku hampir takluk sampai pada benteng terakhir muncul sebuah gagasan. Sebelum seseorang membayarkan zakat mal, ia harus menghitung jumlah harta yang ia miliki. Jika ia membayar zakat mal setahun sekali maka minimal setahun sekali ia harus menghitung harta yang telah ia dapatkan agar kemudian dikalikan dua setengah persen. Tahun ini zakat mal yang harus aku keluarkan semakin besar. Aturan ini bukan untuk merampok harta yang aku "miliki". Aturan ini ada untuk mengingatkan bahwa dengan semakin besar nilai zakat mal yang wajib aku bayarkan, artinya semakin banyak pula rejeki yang telah aku terima dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dalam berdoa aku selalu memohon rejeki seolah-olah aku ini kekurangan, tapi dengan membayar zakat mal aku dibenturkan dengan fakta bahwa telah ada penambahan rejeki.....meskipun masih ada salah kelola
Setiap hari aku memohon untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Tapi ternyata jalan hidupku masih bengkok, sering miring ke kiri dan ke kanan. Intinya masih gak nggenah.
Setelah aku pikir-pikir jebul itu wajar....lha wong aku mbaca Al-Fatehah saja masih belum beres.
Tunjukilah jalan yang lurus itu kan ayat ke lima, jadi kalo ayat ke satu sampai empatnya aja belum bener penyikapannya, otomatis ayat ke limanya juga gak akan benar penghayatannya.
Bagaimana aku bisa merasa mantap memohon jalan yang lurus jika membathin Alhamdulillah hanya setelah makan saja. Bagaimana aku bisa merasa yakin jika belum tau kenapa bisa Arrohmannirrohim, bahkan hanya untuk menghayati secuil cintanya Allah yang katanya jauh lebih luas dari pada langit dan bumi masih belum sanggup. Bagaimana mungkin doaku itu bisa bergetar jika maliki yaumiddin hanya sebatas retorika bukan tanda kepatuhan. Dan iyyaka na'budu itu, masih aku baca dengan pikiran kosong.
 Sebenarnya rencana bersepeda malam hari akan dilaksanakan seminggu yang lalu sebelum puasa. Akan tetapi berhubung saat itu belum ada lampu (belakang) maka rencana tersebut dibatalkan. Berhubung lampu belakang sudah terbeli (cat eye, TL -LD1000) maka Sabtu, 15 September 2007 rencana bersepeda malam hari telah terlaksana. Saya berangkat dari Sukatani, Cimanggis pada jam 19.30 WIB kemudian tiba di Tebet pada jam 21.00 WIB. Adapun rute yang ditempuh yaitu Sukatani, Cimanggis - Jl. Raya Bogor - Pasar Rebo - Pasar Induk - Pasar Kramat Jati - PGC - Dewi Sartika - Otista - Kampung Melayu - Tebet. Perjalanan dilakukan sendirian alias bersepeda solo. Alhamdulillah selamet dan juga daya tahan pantat untuk duduk di sadel sudah jauh lebih baik  .
Ada beberapa alasan mengapa aku masih menyebut sepeda sebagai salah satu hobiku. Kalau dikategorikan maka ada dua alasan yaitu alasan teknis dan alasan filosofis.
Alasan teknis
- Aku lulusan fakultas teknik, bahkan teknik mesin. Namun karena roda nasib , aku justru bekerja dalam area cost accounting. Sehingga antara kuliah dan pekerjaan nyaris tidak nyambung. Ditambah aku cenderung suka membaca (novel) dan kalau diperhatikan jurnal-jurnalku di multiply....aku terlalu sibuk dengan puisi. Dengan bersepeda, aku kembali mengutak-atik barang mekanik sehingga sedikit demi sedikit aku mengembalikan insting engineer-ku. Aku tidak perlu menjadi engineer kembali, tapi paling tidak hidup lebih seimbang.
- Jadi lebih sering berolah raga karena sayang aja...sudah keluar duit beli sepeda tapi gak pernah dipakai.
- Teman makin banyak. Lagi pula, di jalanan jadi lebih sering tersenyum karena menyapa sesama pengguna sepeda.
- dll
Alasan filosofis
- Dari salah satu situs sepeda (sorry yaaa lupa) disebutkan bahwa ketika mengendarai sepeda di medan yang banyak rintangannya maka fokus mata jangan kepada rintangan tersebut, misal batu dan pohon, sebab jika mata kita fokus pada rintangan tersebut maka secara tidak sadar tangan kita akan mengarahkan jalannya sepeda justru ke arah rintangan itu. Jadi dengan kata lain fokuskan mata pada celah atau jalan yang dapat dilewati sepeda. That's life!!! Jika ingin menuai sukses maka jangan fokuskan diri anda pada masalah atau halangan, tetapi pusatkan saja perhatian pada peluang, solusi, atau jalan keluar.
Ada yang bisa menambahkan kenapa bersepeda itu penting?
 Sekali-sekali posting jurnal cerita. Bosen juga nulis puisi melulu  Minggu, 22 Juli 2007, aku memulai hobby baru, yaitu bersepeda. Dan aku memperingatinya dengan cara bersepeda dari Tebet menuju Taman Mini Indonesia Indah pulang pergi. Adapun jalur yang kugunakan Tebet - Kampung Melayu - Dewi Sartika - Kramat Jati (kapok lewat tempat ini karena ini pasar tradisional, macet dan karena kaki terkena air buat nyuci ikan) - TMII. Rute yang lumayan jauh untuk permulaan. Sebenarnya ini bukan permulaan. Sewaktu masih SMP di Yogya, tiap hari aku bersepeda dari Gedong Kuning sampai SMP Negeri 2 (depan Shopping Centre). Itu masih kalah heroik dengan teman sekelasku, seorang perempuan, setiap hari dia bersepeda meskipun rumahnya di daerah kasongan, Mbantul. Dan sepeda yang ia pakai masih model sepeda lama warna hijau dengan merk phoniex. Pada periode itu aku pernah melakukan "touring" dengan jarak relatif sangat jauh (30 km, bolak-balik jadi 60 km). Karena keyakinan tidak bakal diijinkan oleh Pakdhe dan Budhe. Maka jam 3 pagi aku menyelinap keluar rumah untuk touring bersama teman-teman. Waktu itu aku masih menumpang bersama Pakdhe, seorang polisi yang galak, sehingga aku sangat yakin seyakin-yakinnya tidak bakalan diberi ijin melakukan perjalanan dari Yogya ke Wonosari dengan sepeda.  Akhirnya di pagi yang buta, akupun memulai perjalanan bersepeda dengan peralatan yang sangat minim, hanya sepeda yang tak terawat dengan baik dan tanpa bekal minum dan uang yang tak memadai.Kondisi medan perjalanan adalah pegunungan dengan trek naik turun. Sering kali kami harus menuntun sepeda, apalagi sepeda dikendarai dengan berboncengan. Tentu saja perjalanan ini melelahkan dan membuat kami kehausan. Tapi rasa haus bisa diatasi dengan baik dengan cara meminta air di rumah-rumah penduduk. Jadi modalnya cukup bisa berbahasa Jawa halus. Dan terus terang, kami juga memanjat pohon kelapa yang ada di Bukit Pathuk. Kami menganggap pohon-pohon kelapa itu tidak bertuan karena terletak di pinggir jalan, daripada kaliren (jawa:dehidrasi). Yah, ini cuma sekelumit cerita masa lalu yang teringat kembali karena sebuah hobi "baru", bersepeda. Wassalam
15 Januari 2002 (22.20 WIB)
Malam ini, saat aku hendak pejamkan mataku, tiba-tiba aku teringat akan sebuah adegan di masa laluku. aku teringat suatu kejadian di saat aku masih SMP. Waktu itu aku menjawab sebuah pertanyaan tertulis. Aku memberi jawaban yang membuatku berenergi. Aku merasa bahagia karena bisa memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban teman-temanku. Aku gembira karena aku unik. Tetapi hatiku hancur ketika aku mengetahui nilai jawabanku. Aku mendapat nilai biasa-biasa saja. Aku merasa sangat konyol karena sempat merasa gembira. Ternyata aku tidak boleh menjadi unik. Aku harus jadi orang biasa-biasa saja. Semua harus merujuk buku yang sama. Ini lebih menyakitkan daripada putus cinta.
Sekarang aku sudah selesai kuliah. Saat yang tepat untuk mengembalikan keunikanku. Sekarang hanya diriku saja yang benar-benar berhak menilai diriku. Saat ini aku bebas untuk memilih persepsi atas suatu masalah. Semoga aku bisa cepat beradaptasi dengan hal baru ini.
23 Januari 2002 (17.50 WIB)
Mendung sangat tebal di luar, rasanya hujan tak akan terbendung lagi. Tapi entahlah, aku tak sanggup untuk memastikan datangnyahujan. Dan memang begitulah hidup, tidak bisa dipastikan namun wajib untuk dicermati.
7 Januari 2002 (22.30 WIB)
Pagi ini ada sebuah kesadaran.
Hidup dengan segala dimensinya seharusnya adalah sebuah lagu yang harmonis. Segala detail dalam kehidupan seharusnya saling jalin-menjalin menyusun sebuah lagu yang sama.
Namun tampaknya banyak manusia membuat dua buah lagu yang sangat berbeda dalam hidupnya. Sehingga segala aktivitasnya tidak terfokus dalam satu irama lagu. Akibatnya bising, tidak ada ketenangan.
Itulah yang menyebabkan sholat tidak khusyuk. Sholat adalah bagian dari irama kehidupan yang memuliakan Allah SWT. Namun banyak orang melakukan sholat berdampingan dengan irama dosa. Sehingga, bagaimana mungkin terbentuk sebuah irama hidup yang harmonis? Bukankah akhirnya keduanya akan saling mencemari?
....karena hari ini bertanggal 8 Jumadil Akhir. Dan itu adalah tanggal kelahiranku. Yang lebih istimewa, ternyata ulang tahunku jatuh di hari minggu, dan memang di hari minggu (pon) jam 11.00 WITengah itulah aku dilahirkan.
Semoga Allah semakin terasa dekat-Nya dalam menjalani hari-hari yang semakin sulit ini. Amin.
Setelah sekian lama, akhirnya hari ini aku mengunjungi toku buku kembali. Aku memang sengaja untuk sementara tidak ke toko buku. Aku pikir aku harus mengontrol nafsu membeli buku mengingat masih banyak buku koleksi pribadi yang belum selesai dibaca.
Adapun buku-buku yang belum tuntas dibaca antara lain:
- Sepotong Surga di Andalusia, Maria Rosa Menocal
- The Rules of Work, Richard Templar
- The Qur'an A Biography, Bruce Lawrence
- Islam and The Malay-Indonesian World, Peter Riddel
- Dunia Sophie, Jostein Gaarder...yang ini dulu sudah baca, karena layak dibaca kembali jadi belum tuntas untuk pembacaan keduanya
- Genom, Matt Ridley
- Dari Atomos Hingga Quark, Hans J. Wospakrik
- The Art of Thinking, Vincent Rugiero
- Mantra Orang Jawa, Sapardi Djoko Damono
- dll
Cuman, kalo nunggu buku-buku itu selesai dibaca semua, kapan ke toko buku lagi ya?  Jadi ceritanya hari ini ke toko buku lagi, itupun tujuan utamanya untuk membeli tas sambil melihat-lihat buku. Ternyata....banyak sekali buku-buku baru dan bagus-bagus. Asli aku ngiler cah. Trus yang bikin surprise ada buku tulisan Uni.....jadi ikut bangga nih  Dari lihat-lihat buku, sudah ada beberapa buku yang akan jadi target untuk pembelian selanjutnya. Waktunya? Mbuh kapan....prinsipnya sesuaikan dengan keperluan diri sendiri dahulu, dibeli sekarang juga belum tentu dibaca...toh buku bukan tanah yang harganya makin lama makin tinggi.
adalah saat kalimat-kalimat bijak mengalir keluar dari mulutku akupun berbicara di antara berpetuah dan berpuisi tanpa sadar, kecongkakan juga menjelma dalam setiap kata yang muncrat dari bibir ini
sleman, 8 Oktober 1999
Duluuuu banget, Aristoteles sudah membuat klasifikasi tentang makhluk hidup. Jadi makhluk hidup dikelompokkan dengan klasifikasi2 seperti divisi, ordo, genus, spesies, dan lain-lain.
Intinya tiap-tiap makhluk hidup dimasukkan dalam satu kelompok karena ada yang sama pada makhluk-makhluk tersebut. Misal kategori mamalia ditandai dengan sifat menyusui dan memiliki tulang belakang. Dari pengklasifikasian Aristoteles itu, kita bisa melihat urutan kompleksitas dari bakteri sampai manusia. Pokoknya semakin ke arah manusia semakin rumit atau kompleks. Jadi ada semacam hirarki, dimana makin tinggi "kastanya" semakin njelimet sifat biologisnya.
Di sisi lain, sebenarnya ada satu sifat makhluk hidup yang tampaknya "lupa" dipakai Aristoteles untuk mengklasifikasikan makhluk hidup, di samping seperti vertebrata, mamalia, darah panas/dingin. Hal yang dilupakan itu adalah semakin kompleks suatu makhluk maka bayinya/anaknya keliatan semakin lucu.
Coba perhatikan, mana ada bayi bakteri yang lucu? Mana ada bayi reptil seperti ular, katak, komodo, biawak yang lucu? Gak ada kan? Nah kemudian meningkat tikus, sudah mulai ada lucu-lucunya. Anak kucing lucu-lucu. Anak anjing lucu banget. Bayi orang utan lucu dan menggemaskan. Sehingga pada akhirnya manusialah yang paling lucu.
Apakah salah jika aku memiliki keyakinan bahwa tak lama lagi bahwa Indonesia akan bangkit dari keterpurukannya?
Apakah salah jika aku sangat percaya bahwa bencana yang bertubi ini akan menjadi awal perubahan negeri ini ke arah yang jauh lebih baik?
Semoga angin yang berdesing di telingaku ini memang angin perubahan dari musim yang kelabu menuju musim kedamaian dan kemakmuran.
Assalamu'alaikum wr.wb
Dalam ilmu mekanika, ada istilah derajat kebebasan. Aku menemukan istilah ini ketika belajar tentang getaran mekanis. Setiap benda dalam sebuah sistem memiliki derajat kebebasan yang berbeda-beda.
Agak sulit bagiku untuk menjelaskan arti derajat kebebasan, mungkin akan lebih mudah jika aku memberikan contoh saja. Kereta api termasuk alat transportasi dengan derajat kebebasan paling sedikit karena hanya memiliki gerak maju dan mundur. Mobil memiliki derajat kebebasan lebih banyak karena di samping melakukan gerak maju mundur, mobil juga bisa bergerak ke kiri dan ke kanan. Pesawat memiliki derajat kebebasan lebih banyak dari pada mobil karena kemampuannya untuk bergerak naik dan turun. Sedang helikopter derajat kebebasannya paling banyak karena ada tambahan kemampuan bergerak mengelilingi sumbunya (rotasi). Jadi pada dasarnya, istilah derajat kebebasan digunakan untuk mengetahui seberapa banyak jenis gerakan yang mungkin dilakukan oleh sebuah benda atau sistem.
Bagaimana dengan manusia, berapa banyak derajat kebebasan yang dimilikinya?
Secara mekanik kita bisa menghitungnya meskipun tidak mudah mengingat tubuh manusia sangat fleksible dengan jumlah persendian yang banyak. Akan tetapi pertanyaan di atas sebenarnya adalah pertanyaan psikologis dan juga spritual.
Untuk bisa menjawabnya, kita harus memahami bagaimana gerak bathin kita selama ini agar paling tidak bisa mengukur berapa derajat kebebasan kita masing-masing. Iya, derajat kebebasan masing-masing individu ternyata berbeda-beda. Derajat kebebasan orang yang tercerahkan dengan yang belum tercerahkan tidaklah sama. Manusia adalah makhuluk dinamis dengan kondisi jiwa yang bergelombang. Terkadang ia merasa memiliki derajat kebebasan yang tak terhingga namun sering kali ia merasa terpenjara oleh rutinitas kehidupan.
Sehingga derajat kebebasan gerak bathin manusia itu tergantung pikiran, orang menyebutnya ”mindset”. Ada sebuah cerita menarik dari Anthony de Mello. Seekor elang hidup bersama komunitas ayam sejak kecil. Ia hidup seperti ayam-ayam itu dan memang ia merasa dirinya adalah seekor ayam. Pada suatu ketika ia melihat seekor burung elang terbang tinggi membentangkan sayapnya di angkasa. Ia merasa kagum dan berkhayal bisa terbang tinggi. Ia berpikir sebagaimana ayam berpikir. Ia tidak sadar bahwa dirinya juga adalah seekor elang dan seharusnya bisa terbang dengan sangat tinggi juga.
Menurut Sartre, manusia ialah apa yang ia pilih untuk menjadi. Karena kita dapat menjadi apa saja, dihadapan kita terbuka peluang yang hampir tidak terhingga¹. Peluang yang tidak berhingga itu bisa dinamakan sebagai derajat kebebasan yang tak berhingga. Yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah kemungkinannya yang tak berhingga. Manusia bisa menjadi malaikat atau iblis, bisa menyelesaikan satu masalah dengan cara yang berbeda-beda, bisa mengucapkan satu maksud dengan berbagai bahasa dan isyarat. Manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang bermacam-macam. Sehingga ketika manusia merasa putus asa dan merasa tak memiliki peluang, maka sesungguhnya ia mengalami penurunan kadar kemanusiaan. Ia seperti makhluk lain yang terbatas dengan derajat kebebasan yang kecil.
Perbudakan dihapuskan karena menurunkan derajat kebebasan manusia. Namun di sisi lain, sebagian manusia berlomba-lomba untuk menjadi hamba Tuhannya. Tidakkah ini aneh? Bukankah menghamba adalah pengekangan terhadap kebebasan? Sebenarnya logika yang terjadi tidaklah seperti itu. Allah itu maha besar, ia tidak berhingga dan tak ada yang bisa membatasiNya. Maka, jika manusia menghamba kepada sesuatu yang tak terhingga maka ia akan mengalami ketakberhinggaan juga. Menghamba kepada Allah itu seperti angka nol. Semua angka jika dibagi dengan nol hasilnya adalah tak berhingga. Bapak Damardjati Soepadjar pernah berujar jika manusia bisa meng-nol-kan dirinya dihadapan Tuhan maka ia akan hanyut dalam lautan ketakberhinggaan
Akhirul kalam, mari menjadi orang yang rendah hati dengan membabat keangkuhan diri sampai pada akar-akarnya. Kesombongan itulah yang membuat semesta kehidupan kita yang semestinya seluas alam semesta menjadi ruang gelap yang sempit. Semoga bermanfaat.
Wassalam.
¹ : Psikologi Agama, Jalaluddin Rakhmat, hal 123.
Akhirnya saya bisa juga beropini..*lega*
AA GYM MENIKAH LAGI!!! Itu adalah berita terhangat akhir-akhir ini. Semua orang dari segala lapisan masyarakat membicarakannya. Berbagai komentar bermunculan. Berbagai penyikapan mencuat. Ada yang merasa terpukul, ada yang semakin kagum dengan istri pertama Aa, ada yang semakin sinis, namun ada juga yang tidak peduli.
Singkat kata, banyak orang membicarakan permasalahan Aa Gym. Upss....sebentar... permasalahan Aa Gym?? Begini fren, apakah anda setuju jika saya ungkapkan bahwa mungkin sebenarnya kitalah yang lebih bermasalah? Tidakkah kita sedang ditunjukkan bahwa kita sedang bermasalah dengan cara kita berpikir? Tuhan sedang menunjukkan kita sesuatu.
Jika penilaian anda tentang Aa Gym menurun drastis karena poligami, maka kenyataannya tidak semua orang (sebagian wanita) menganggap poligami itu buruk. Artinya berpoligami tidak mutlak sebagai keburukan sekaligus juga tidak mutlak sebagai kebaikan. Sehingga kita tidak perlu merasa tiba-tiba lebih baik dari pada Aa Gym. Juga tidak perlu merasa seperti Archimedes saat menemukan hukum berat jenis dengan berteriak ,”...eureka...eureka!! Akhirnya kutemukan cacat Aa Gym...ooo yeaahhh...yes, yes, yes!!!”
Apakah anda mengagumi Aa Gym selama ini? Siapakah yang menyuruh anda kagum? Orang lain? Pasti kekaguman itu adalah pilihan sadar anda sendiri. Anda sendiri yang membuat rasa kagum itu muncul. Lalu, mengapa Aa Gym yang disalahkan ketika kekaguman itu sirna? Aa Gym tidak menyuruh anda untuk kagum padanya, kan? Saran saya, jangan lagi kagum. Ojo gumunan, biasa wae, termasuk terhadap yang menulis jurnal ini. *ge er mode on*
Sayyidina Ali pernah memberi nasihat yang kira-kira isinya yaitu dengarkan apa yang dibicarakan, jangan melihat siapa yang bicara. Apakah anda sudah berencana untuk tidak akan lagi mendengarkan nasihat Aa Gym? Saran saya, urungkan rencana tersebut. Jika guru atau dosen matematika anda berpoligami apakah anda juga tidak akan mendengarkannya selama ia memberikan pelajaran matematika? Jika seorang pemerkosa memberikan nasihat untuk jangan memperkosa seorang wanita, apakah anda akan menganggap nasihat itu keliru? Mengapa kita tidak mau lagi mendengarkan Aa Gym ketika ia mengajak kita untuk berperilaku baik?
Anda ingin hidup damai? Jika anda menjawab iya, maka saya sarankan untuk lebih memusatkan perhatian anda pada kebaikan dan keindahan, termasuk kebaikan Aa Gym. Seandainya poligami buruk, bukankah jasa baik Aa Gym jauh lebih banyak. Kenapa kita terlalu menyibukkan diri pada yang sedikit? Berpikir positif atau khusnudzon adalah tugas hidup kita sehari-hari. Meskipun sekarang ramai dengan cerita di seputar poligami-nya Aa, jangan lupakan tugas tersebut sebab itu akan jadi penilaian penting di akhirat nanti
Akhirul kalam, tulisan ini bukan untuk membela Aa Gym. Terus terang saya jarang mendengarkan pengajian Aa Gym. Pesan moral tulisan ini hanyalah terkadang kita masih terlalu jauh dari kebijaksanaan. Kita terlalu kritis terhadap orang lain, namun kita jarang mengkritisi apa yang kita rasakan. Ada baiknya, kita menjaga jarak terhadap diri kita sendiri. Sekali-sekali cobalah bayangkan seolah jiwa anda melayang-layang di udara kemudian amati diri anda sendiri, termasuk dinamika perasaan di dalamnya. Mungkin itu akan membantu anda untuk lebih bijak.
Oh ya, satu lagi....tulisan ini juga bukan untuk mendukung poligami. Semangat tulisan ini cuma satu yaitu berbaik sangka. Wassalam.
musim berhujan kembali datang meski katanya banjir tahun ini akan dahsyat dan hapeku raib kemarin kala gerimis
rintiknya adalah penanda bahagia, yaitu kembalinya waktuku berpuisi
ttd,
rain lover
Seorang teman pernah memberi nasihat agar bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar. Ia berkata ketika membaca Qur’an sudut pandang mata jangan hanya terpaku pada huruf yang sedang dibaca. Sudut pandang mata harus diperlebar sampai beberapa huruf selanjutnya. Dengan begitu kita bisa mengatur irama dengan lebih baik. Ketika saya praktekkan, Alhamdulillah bacaan saya relatif menjadi lebih baik meski masih harus lebih banyak berlatih.
Membaca al-Quran pada tingkatan tertentu bisa diperumpamakan sebagai kehidupan. Hidup akan lebih ringan dan bahagia jika dijalani dengan harmoni. Harmonize menurut kamus Encarta berarti to combine pleasingly. Membaca Al-Qur’an agar harmonis harus ada kesinambungan dan keseimbangan antara huruf yang sedang kita baca dengan huruf sebelum dan sesudahnya.
Dimensi waktu kehidupan ada tiga yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hidup yang harmonis adalah hidup yang bisa memadukan ketiga dimensi tersebut dengan seimbang. Hidup tidak akan bahagia jika manusia terlalu menengok ke masa lalu karena ia tidak akan lagi bisa terpesona dengan keajaiban di masa sekarang mengingat pikirannya terlalu sibuk dengan nostalgia usang. Terlalu memikirkan masa depan akan membuat diri penuh dengan perasaan khawatir. Sedang hidup hanya untuk hari ini akan mengakibatkan penyesalan di masa depan.
Masa lalu, masa kini, dan masa depan harus berada dalam porsinya masing-masing agar hidup ini menjadi sebuah lagu yang mengalir indah, sebagaimana mambaca Al-Quran.
| |